Laman

Kamis, 04 Desember 2014

Mengenali Penyakit Hernia

Kali ini gue mau berbagi informasi sedikit tentang suatu penyakit. Mungkin bagi temen blogger dan pembaca sekalian ada yang sudah tahu tentang penyakit yang mau gue bahas ini. Sebelumnya gue nggak bermaksud menggurui dan kalo ada mengetahui lebih, mari sama-sama kita berbagi informasi dan pengetahuan disini hehe.

Jadi gini, kebetulan penyakit ini memang sering dibahas waktu kuliah, jadi dikit-dikit agak tau lah tentang penyakit yang satu ini.



Apa itu hernia?
Hernia adalah suatu benjolan/penonjolan isi perut dari rongga normal melalui lubang kongenital atau didapat (Kartika, 2013: 66).
Hernia adalah keluarnya isi tubuh (biasanya abdomen) melalui defek atau bagian terlemah dari dinding rongga yang bersangkutan (Deden & Tutik, 2010: 91).
Menurut Syamsu H.R & Wim D.J dalam Suratun & Lusianah (2010: 316), hernia merupakan prostusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan yang terdiri atas cincin, kantong, dan isi hernia.
Penyakit hernia adalah penyakit yang disebabkan oleh turunnya usus ke bawah selaput perut sampai ke kantung buah zakar (Ardian & G. Made, 2013: 101).
Jadi, hernia itu adalah penonjolan dari isi perut (biasanya usus) ke luar dinding perut melalui lubang bawaan sejak lahir atau didapat setelah lahir.



Ada berapa jenis hernia?
Hernia ini juga terdiri dari beberapa jenis yaitu:
Menurut Suratun & Lusianah (2010: 316-318).
a.   Klasifikasi hernia menurut letaknya.
1)  Hernia Inguinal dibagi menjadi:
a)  Hernia Indirek atau lateral (melalui cincin inguinal)
b) Hernia Direk atau medialis (melewati dinding abdomen)
2) Hernia Femoralis (melalui cincin femoral/ bawah lipatan paha)
3) Hernia Umbilikal (melewati daerah umbilical/pusar)
4) Hernia Diafragmatika (melalui lubang pada diafragma kje dalam rongga dada)
5) Hernia Insisional (riwayat bedah sebelumnya yang telah sembuh secara tidak adekuat)
b.  Klasifikasi hernia berdasarkan terjadinya.
1)  Hernia Kongenital (bawaan sejak lahir)
2) Hernia Akuisitas (didapat setelah lahir)
c.   Klasifikasi hernia menurut sifatnya:
1)  Hernia Reponible/Reducible (hernia dapat keluar masuk)
2) Hernia Irreponible (tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga perut)
3) Hernia Strangulata/Inkaserata (hernia terjepit oleh cincin hernia, isi kantong terperangkap)

Apa yang menyebabkan seseorang menderita hernia?
a.   Peningkatan tekanan intra abdomen (perut) contohnya.
1.   mengangkat beban yang terlalu berat (sering dan tidak disesuaikan dengan kondisi tubuh)
2.  batuk kronis (lebih dari enam bulan)
3.  obesitas (kegemukan)
4.  mengejan yang berlebihan saat defekasi (BAB) dan berkemih.
b.  Kelemahan dinding otot abdomen (perut) contohnya.
1.   kelainan kongenital (bawaan sejak lahir)
2.  usia semakin (bertambah usia dinding abdomen semakin melemah)
3.  pembedahan sebelumnya (riwayat pembedahan yang kurang baik)

Bagaimana patofisiologi atau perjalanan terjadinya penyakit hernia?
Penyakit hernia ini bukanlah penyakit keturunan ataupun menular.

Peningkatan tekanan intra abdomen dan kelemahan dinding otot abdomen

Isi rongga abdomen melewati dinding perut

Penonjolan keluar
 
Hernia

Bagaimanakah tanda dan gejala seseorang dikatakan hernia atau menderita hernia?
Kita bisa mengetahui menderita atau tidaknya penyakit hernia dengan beberapa tanda dan gejala dibawah ini.
Menurut Suratun & Lusianah (2010: 320-321) tanda dan gejalanya adalah.
a.   Tampak adanya benjolan di lipat paha atau perut bagian bawah dan benjolan bersifat temporer yang dapat mengecil dan menghilang yang disebabkan oleh keluarnya suatu organ.
b.  Bila isinya terjepit akan menimbulkan perasaan nyeri di tempat tersebut disertai perasaan mual.
c.   Nyeri yang diekspresikan sebagai rasa sakit dan sensasi terbakar. Nyeri tidak hanya didapatkan di daerah inguinal (pangkal paha) tapi menyebar ke daerah panggul, belakang kaki dan daerah genital (kelamin) yang disebut Reffered Pain. Nyeri biasanya meningkat dengan durasi dan intensitas dari aktivitas/kerja yang berat. Nyeri akan mereda atau menghilang jika istirahat. Nyeri akan bertambah hebat jika terjadi strangulasi (sumbatan) karena suplai darah ke daerah hernia terhenti sehingga kulit menjadi merah dan panas.
d.  Hernia Femoralis kecil mungkin berisi dinding kandung kencing sehingga menimbulkan gejala sakit kencing (disuria) disertai hematuria (kencing darah) di samping benjolan di bawah sela paha.
e.   Hernia Diafragmatika menimbulkan perasaan sakit di daerah perut disertai sesak nafas.
f.    Bila mengejan atau batuk maka benjolan hernia akan bertambah besar.

Bagaimanakah pemeriksaan diagnostik atau pemeriksaan yang harus dilakukan untuk mengetahui seseorang menderita atau tidaknya penyakit hernia ini?
Apabila terdapat tanda dan gejala seperti yang disebutkan tadi, segera periksakan ke pelayanan kesehatan terdekat. Karena penanganan lebih dini memungkinkan proses penyembuhan yang lebih cepat.
Pemeriksaan diagnostik hernia menurut Suratun & Lusianah (2010: 321):
a.   Pemeriksaan darah lengkap
Menunjukkan peningkatan sel darah putih, serum elektrolit dapat menunjukkan hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit), dan ketidakseimbangan elektrolit.
b.  Pemeriksaan urin
Munculnya sel darah merah atau bakteri yang mengindikasikan infeksi.
c.   Elektrokardiografi (EKG)
Penemuan akan sesuatu yang tidak normal memberikan prioritas perhatian untuk memberikan anestesi.
d. Sinar X abdomen menunjukkan abnormalnya kadar gas dalam usus/obstruksi usus.

Bagaimanakah komplikasi atau kelanjutan dari penyakit hernia ini bila dibiarkan?
Kalo Menurut Suratun & Lusianah (2010: 321), komplikasi yang mungkin terjadi pada hernia adalah.
a.   Hernia berulang.
b.  Obstruksi (hambatan) usus parsial (sebagian) atau total.
c.   Luka pada usus.
d.  Gangguan suplai darah ke testis (kelenjar kelamin atau reproduksi) jika laki-laki.
e.   Perdarahan yang berlebih.
f.    Infeksi luka bedah.
g.  Fistel urin dan feses.

Bagaimanakah pencegahan dan pengobatan penyakit hernia?
Menurut Suratun & Lusianah (2010: 322).
Penatalaksanaan atau pengobatan hernia.
a.   Terapi konservatif
1)  Reposisi
Tindakan memasukkan kembali isi hernia ke tempatnya semula secara hati-hati dengan tindakan yang lembut tetapi pasti. Tindakan ini hanya dapat dilakukan dengan menggunakan kedua tangan. Tangan yang satu melebarkan leher hernia sedangkan tangan yang lain memasukkan isi hernia melalui leher hernia tadi.
2) Pemakaian penyangga/sabuk hernia
Pemakaian bantalan penyangga hanya bertujuan menahan hernia yang telah direposisi dan tidak pernah menyembuhkan sehingga harus dipakai seumur hidup.
b.  Terapi Operatif
1)  Herniotomi
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya. Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan jika ada perlengketan, kemudian direposisi, kantong hernia dijahit, ikat setinggi mungkin lalu dipotong.
2) Hernioplasti
Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.
3) Hernioraphy
Mengambil isi kantong hernia ke dalam abdomen dan menutup celah yang terbuka dengan menjahit pertemuan tranversus internus dan muskulus oblikus internus abdominus ke ligament inguinal.
c.   Medikasi
1)  Pemberian analgesik untuk mengurangi nyeri.
2) Pemberian antibiotik untuk mengurangi infeksi.
d.  Aktivitas dan diet
1)  Aktivitas
Hindari mengangkat barang yang berat sebelum atau sesudah pembedahan.
2) Diet
Tidak ada diet khusus, tetapi setelah dioperasi diet cairan sampai saluran gastrointestinal berfungsi lagi, kemudian makan dengan gizi seimbang. Tingkatkan masukan serat dan tinggi cairan untuk mencegah sembelit dan mengejan selama buang air besar. Hindari kopi, teh, coklat, minuman berkarbonasi, minuman beralkohol, dan setiap makanan atau bumbu yang memperburuk gejala.

Pencegahan (www.gejalahernia.com).
a.   Pertahankan berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan dan usia kita.
b. Berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui pola dan jenis makanan yang baik, jika kita menduga mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.
c. Jadikan buah-buahan, sayuran dan biji-bijian sebagai hidangan wajib diet kita. Jenis makanan tersebut banyak mengandung serat yang dapat mencegah terjadinya sembelit.
d. Berhati-hati saat mengangkat beban berat. Pastikan untuk mengangkat benda tersebut dengan hati-hati. Jangan paksakan untuk mengangkat sesuatu yang diluar kemampuan kita untuk mengangkatnya.
e.   Hubungi dokter saat menderita batuk berkepanjangan.
f. Berhenti merokok. Merokok dapat menyebabkan batuk dan ini dapat mengguncang otot-otot abdominal.

Referensi:
Dermawan, Deden & Tutik Rahayuningsih. 2010. Keperawatan Medikal Bedah (Sistem Pencernaan). Yogyakarta: Gosyen Publishing
Ratu R, Ardian & G. Made Adwan. 2013. Penyakit Hati, Lambung, Usus dan Ambeien, Yogyakarta: Nuha Medika
Suratun & Lusianah. 2010. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Gastrointestinal. Jakarta: TIM
Wijayaningsih, Kartika Sari. 2013. Standar Asuhan Keperawatan. Jakarta: TIM
http://gejalahernia.com/tips-mencegah-hernia/ diakses 4 Desember 2014 Jam 06.12 WIB

Semoga bermanfaat…

2 komentar: